Kamis, 06 Juli 2017

Smart Fishery Dukung Kinerja Fishfinder

Humas Provinsi Kaltara
TEKNOLOGI PERIKANAN : Tampilan data yang dihasilkan aplikasi Smart Fishery. Teknologi ini akan digunakan DKP Kaltara untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan nelayan di Kaltara.


KOMANDOKALTARA.COM - SEBELUM menelurkan inovasi sistem navigasi nelayan berbasis teknologi informasi penginderaan jauh yang dikembangkan PT Media Rekayasa Lintas atau Marlin dalam bentuk aplikasi bernama Smart Fishery, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltara telah melengkapi sebagian nelayan di wilayah ini dengan perangkat pendukung usaha penangkapan ikan. Adalah, perangkat Fishfinder dan Global Position System (GPS).

Fishfinder atau Netsonde adalah alat dengan frekuensi tinggi yang digunakan untuk mencari kumpulan ikan. Alat pencari ikan tersebut menggunakan gelombang suara untuk melihat benda di bawah air. 

Cara bekerjanya adalah dengan mentransmisikan gelombang suara ke dasar laut dan menerima gema dari dasar laut tersebut atau intervensi dari kumpulan ikan. Dengan begitu dapat memberikan lokasi yang lebih luas terkait keberadaan kumpulan ikan. Diyakini, dengan alat pencari ikan ini nelayan dapat memaksimalkan kegiatan melautnya.

Sementara Smart Fishery, mengandalkan penginderaan jauh untuk memetakan potensi penangkapan ikan. Aplikasi ini juga membutuhkan jaringan internet untuk mengoperasikannya, serta telepon seluler (Ponsel) pintar. 

“Nantinya, kedua perangkat ini akan saling menunjang. Targetnya, tentu saja peningkatan hasil tangkapan ikan nelayan, yang berujung pada perbaikan kesejahteraan nelayan di Kaltara,” kata kepala DKP Provinsi Kaltara H Amir Bakri di ruang kerjanya, Kamis (6/7).

Untuk saat ini, Fishfinder dan GPS disalurkan sebagai bantuan kepada nelayan di wilayah Tarakan. Kuantitasnya, 40 nelayan menerima Fishfinder, dan 100 lagi menerima GPS. “Baik Smart Fishery maupun Fishfinder dapat digunakan oleh nelayan kecil hingga 10 GT (Gross Tonage) keatas. Jadi, penerapannya tak memilah kapasitas tangkapan ikan, pokoknya semua nelayan Kaltara kelak akan dipermudah dengan bantuan teknologi perikanan itu,” jelas H Amir.

Sedangkan untuk penerapan Smart Fishery, lantaran keterbatasan anggaran maka DKP hanya membangun Sub Command Center (SCC) di tiga lokasi. “Kami belum dapat memberikan bantuan tablet atau ponsel pintar berisi aplikasi Smart Fishery ke nelayan. 

Namun, kami bangun SCC untuk mengenalkan kepada nelayan teknologi ini. Di SCC, itulah nelayan akan melihat langsung informasi aplikasi Smart Fishery sebagai acuan bagi mereka untuk melaut,” ulas H Amir.

Diharapkan, setelah merasakan manfaat informasi yang disampaikan lewat SCC tersebut, nelayan dapat membeli tablet atau ponsel pintar yang memiliki aplikasi Smart Fishery. “Aplikasi ini tidak disediakan secara bebas, seperti aplikasi ponsel Android pada umumnya. Hanya pengembang yang berhak menanamkan aplikasi ini ke ponsel tersebut. Dan, saya kira setiap nelayan mampu membeli ponsel pintar tersebut,” urai H Amir.

Tak terlepas dari itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas sebuah inovasi yang akan dikembangkan oleh sebuah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), H Amir memastikan bahwa sebelum diterapkan, pihaknya akan melakukan audiensi dengan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie. 

“Kami akan audiensi dengan Gubernur terkait penerapan teknologi ini sebagai sebuah inovasi yang kami kembangkan. Besar harapan, program ini sudah dapat dilaksanakan tahun ini, karena pembangunan SCC-nya ditaksir mulai dilaksanakan bulan ini,” tuntasnya.(Humas / Yanie)