Kamis, 18 Januari 2018

Dijadikan Ambulans Udara, Terbangkan Dokter Spesialis ke Perbatasan


Humas Provinsi Kaltara
TEKNOLOGI CANGGIH : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie bersama Wagub Kaltara H Udin Hianggio dan rombongan kala meninjau salah satu pesawat N-219 yang dikustomisasi untuk kepentingan pertahanan-keamanan.

KOMANDOKALTARA.COM - Perihal krusial yang menjadi salah satu isu sentral di perbatasan, adalah persoalan pelayanan kesehatan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat perbatasan. Salah satunya, Dokter Terbang. 

HUMAS PROVINSI KALTARA
RENCANA pembelian pesawat N-219 ‘Nurtanio’ dengan berbagai kelebihannya, salah satunya multipurpose cabin yang mampu mengikuti kebutuhan user ditaksir akan makin meningkatkan kecepatan dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat perbatasan. “Tahun ini, salah satu program andalan untuk peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah perbatasan adalah, Dokter Terbang,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie.

Sampai saat ini, program Dokter Terbang sangat bergantung pada jasa layanan penerbangan perintis bersubsidi oleh maskapai Susi Air dan Mission Aviation Fellowship (MAF). “Kendalanya, paling cepat April setiap tahunnya baru bisa direalisasikan. Lantaran, program ini butuh proses pelelangan yang cukup lama. Persoalan ini juga saya sampaikan kepada Pemerintah Pusat agar menjadi perhatian. Dan, ini juga yang melandasi saya untuk mencetuskan ide pembelian pesawat berkemampuan menjelajah wilayah perbatasan,” papar Irianto.

Diyakini Gubernur dengan layanan Nurtanio, nantinya program Dokter Terbang akan mengurangi beban anggaran daerah. Lantaran, biaya operasional utamanya biaya penyewaan pesawat sudah dapat diminimalisir. Sejauh ini, dengan menggunakan model penyewaan pesawat, biaya operasional perjam yang dibutuhkan mencapai Rp 60 juta. Sementara, bila menggunakan pesawat N-219, hanya sekitar Rp 15 juta. “Bayangkan saja, setiap tahun sejumlah dokter spesialis dikirimkan ke perbatasan sebanyak 3 hingga 4 kali. Berapa anggaran yang digunakan untuk kegiatan itu. Bandingkan bila kita memiliki pesawat yang sejenis, bahkan lebih baik performanya tapi biaya operasionalnya bisa diminimalkan. Tentunya, akan menjadi nilai lebih atas banyak hal,” urai Gubernur.

Tenaga dokter yang dilibatkan dalam program Dokter Terbang, sedianya adalah para dokter umum yang disekolahkan pemerintah daerah pada program pendidikan dokter spesialis. “Layanan Dokter Terbang sampai saat ini memang masih berupa layanan langsung kepada masyarakat, termasuk memberikan rujukan apabila sakitnya tak bisa diatasi saat itu. Nah untuk rujukan itu, misal saja ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Tarakan, berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk kesana. Dengan layanan N-219, akan lebih diperingan. Bahkan, N-219 dapat diubahsuai menjadi Ambulans Udara yang didalamnya ada perangkat medik layanan kesehatan standar. Juga ada tempat tidur pasien, apabila harus dirawat atau dirujuk ke luar daerah,” jelas Irianto.

N-219 menurut keterangan PTDI, memiliki coverage range hingga ke Balikpapan, Kalimantan Timur (base maintenance di Tarakan). Bahkan mampu terbang untuk sekali trip ke wilayah Pontianak, Kalimantan Barat. “Kalau terealisasi nanti, N-219 akan menerbangi rute perintis yang sudah ada sebelumnya. Seperti, Tarakan-Malinau, Tarakan-Long Bawan, Malinau-Binuang, Malinau-Long Bawan, Malinau-Long Apung, Malinau-Binuang-Long Layu, dan lainnya,” ungkapnya.

Bisa pula mengudara di air strip non perintis dan non komersial (lapangan terbang) di Kaltara. Seperti, ke Long Alango, Long Pujungan, Data Dian, Makulit, Long Nawang, Sungai Barang, Mahak Baru, Long Sule, Tau Lumbis, Pa’ Upan dan lainnya. “Maksimal range yang dapat dijangkau N-219 apabila terbang dari Tarakan itu, sekitar 1,5 jam penerbangan dengan jarak sejauh 213 nm (Nautical Mile),” jelasnya. Jadi, dengan dukungan N-219, program layanan kesehatan seperti Dokter Terbang akan lebih dimaksimalkan. Dengan begitu, masyarakat di wilayah perbatasan kelak, takkan lagi menghabiskan dana lebih untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.(bersambung) (Humas / YN)