Selasa, 20 Februari 2018

Nikmati Barongko Khas Bugis-Makassar, Minumannya Produk Malaysia

Humas Provinsi Kaltara
KEDEKATAN : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie kala berfoto bersama warga di sela kunjungannya ke Pulau Sebatik, Nunukan, belum lama ini.

KOMANDOKALTARA.COM - TANJUNG SELOR - Usai meninjau sekolah, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie kembali melanjutkan rangkaian kunjungan kerjanya di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan. Beberapa sarana infrastruktur dan bantuan ke masyarakat ingin dilihatnya langsung. Apakah memang bermanfaat dirasakan warga? Berikut catatan wartawan yang meliput kegiatan selama gubernur di Sebatik.

Menjelang siang, matahari mulai meninggi. Hari itu cuaca memang bersahabat. Awan tipis cukup untuk menghalang teriknya cahaya siang. 

Iring-iringan mobil yang membawa Gubernur bersama rombongan terus bergerak menyusuri jalan lingkar yang membelah pulau di perbatasan itu. Pemandangan kebun kelapa sawit menghiasi di kanan kiri jalan di sepanjang perjalanan. Ada juga beberapa kebun dan pertanian komoditas lain. 

Selain pemandangan perkebunan di sepanjang perjalanan, rombongan juga harus melintasi beberapa ruas jalan yang rusak akibat longsor. Kultur tanah yang berupa tanah liat, diduga menjadi penyebab gampangnya badan jalan itu bergerak dan longsor.

Menurut data dari Satuan Kerja (Satker) Penanganan Jalan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), terdapat puluhan titik ruas jalan di Sebatik yang rusak dan beberapa di antaranya telah diperbaiki melalui anggaran 2017. “Melalui APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) telah dialokasikan anggaran Rp 62 miliar pada 2017 untuk perbaikan beberapa ruas jalan yang longsor. Tahun ini masih berlanjut, hingga semua tertangani,” kata Irianto di sela meninjau salah satu titik jalan yang sudah diperbaiki.

Tak hanya meninjau ruas jalan, dalam perjalanan menuju Kecamatan Sebatik Timur, Gubernur juga mengunjungi beberapa hasil program pemerintah lainnya.

Cukup panjang perjalanan darat yang dilalui. Kurang lebih 2 jam, baru akhirnya sampai di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Untuk diketahui, masyarakat Sebatik yang mayoritas warga asal Sulawesi Selatan, selain berdagang, bertani dan di sektor perkebunan, sebagian besar lainnya bermatapencaharian sebagai nelayan. 

Gubernur meninjau beberapa fasilitas yang ada di SKPT Sebatik. Seperti coldstorage, ruang pengelolaan ikan, tempat pemantauan kondisi laut dan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menyerahkan bantuan di bidang kelautan dan perikanan. Di antaranya bantuan untuk petani pembuat garam, bantuan alat-alat untuk nelayan, serta benih dan pakan ikan kepada para pembudidaya.

Lelah, Gubernur bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan rombongan lain pun beristirahat di salah satu ruang terbuka di lokasi itu. Suguhan penganan khas dihidangkan. Barongko dan Katirisala di antaranya. Dua makanan khas Bugis dan Makkasar, dua suku asal Sulawesi Selatan.

Menurut kisah beberapa warga, dahulu kue Barongko sering dihidangkan sebagai makanan penutup bagi para raja Bugis-Makassar. Selain itu, kue ini biasa dihidangkan juga dalam pesta adat, pernikahan, khitanan, mappanre temme’, aqiqah dan sebagainya.

Gubernur pun terlihat begitu menikmati suguhan penganan itu. Sembari berbincang hangat dengan para tokoh masyarakat setempat. Juga ada diskusi serius mengenai kondisi Sebatik.

Jika penganan yang disuguhkan merupakan makanan tradisional Tanah Air. Berbeda dengan minumannya. Meski mereknya tak asing di Indonesia, dari label tertera itu produk Malaysia yang menjadi ciri khas di Sebatik, sebagai daerah perbatasan.

Hal ini menunjukkan, tak hanya kedekatan wilayah antara Sebatik dan Tawau, Malaysia juga memiliki hubungan dagang yang sudah berlangsung sejak bertahun silam. Banyak produk Malaysia beredar di Sebatik. Sebaliknya, tak sedikit hasil bumi dan laut dari Sebatik dan sekitarnya yang dijual di Tawau, Sabah. Masih ada kisah lain dari kunjungan kerja Gubernur di Pulau Sebatik, Kamis (15/2) lalu. Apa saja itu?(bersambung) (Humas / YN)