Sabtu, 10 Februari 2018

Sidang Lanjutan Kasus SB Rejeki Baru Kharisma Kembali Di Gelar

Foto : Saat Evakuasi Korban SB Rejeki Baru Kharisma di Perairan Pelabuhan Tengkayu I Beberapa Waktu Lalu

KOMANDOKALTARA.COM - TARAKAN - Sidang Lanjutan Kasus SB Rejeki Baru Kharisma kembali di gelar . Kali ini sidang dilakukan untuk meminta keterangan dari motoris SB Rejeki Baru Kharisma(9/2).

Dalam keterangan yang di sampaikan Aris Rusdianto alis bongket yang duduk di kursi terdakwa, mengatakan sudah menjadi motoris speedboat sekitar 7 tahun, namun belum pernah mengalami  seperti ini. Dengan jam terbang yang tinggi bongket mengaku sudah benar benar paham dengan kondisi Kaltara. Namun terkait insiden tersebut ia mengakui murni terjadi faktor alam. 

"Saya terus terang minta maaf bu hakim, alasan ini saya tidak utarakan saat pemeriksaan di kantor polisi, sebenarnya karena faktor cuaca juga yang membuat speedboat itu terbalik. Saat itu setelah keluar pelabuhan saya ingin menambah laju speedboat, kami masuk diarus yang deras, dan speedboat yang saya nahkodai menjadi terputar'', ungkapnya saat di gelar persidangan  di Pengadilan Tinggi  Tarakan (2/9)

Hakim pun kembali mempertanyakan, soal arus yang dimaksudkan oleh terdakwa. apakah saudara melihat yang lain? " bongket melihat ABK, soalnya saya sedang berada di depan kapal. Dan saat itu penumpang tidak diperhatikan, kan saya di depan speedboat, Pas masuk diputaran arus itu susah kami untuk keluar. Saya sudah menghindar, di depan ada satu, pas saya mundur ada lagi kebelakang, saya pun menghindar dengan berbelok kekanan menurut insting saya, tapi yang terjadi malah speedboat mengalami putaran arus susah, dan speed jadi kebanjiran", jelas bongket.

Bongket mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin agar speedboat tidak terbalik, namun apa yang dilakukan sia-sia dan terjadilah kecelakan speed itu. Dia pun berusaha untuk menyelamatkan penumpang keluar dari kapal. 

"Selama ini saya tidak pernah melanggar dan merasa cukup waspada. Saya sangat bersalah karena menghilangkan nyawa orang, tapi saya sudah berusaha semampu saya", ujarnya.

"Sebenarnya, kalau sesuai izin yang hanya dalam undang-undang, KSOP (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan) hanya diperbolehkan jumlah penumpang 55 orang dan duduk di dalam. Selama saya bawa kapal, tidak pernah sampai kelebihan muatan, "pungkasnya. 

Menurutnya, sebagai motoris, ia bisa memberikan kebijakan 7 orang penumpang untuk duduk di atap kapal bersama barang bawaan penumpang. "Sebenarnya tidak dilarang juga duduk di atap kapal itu, tapi tidak dibenarkan KSOP, cuma tergantung saya saja sebagai motoris," tambahnya.

Rancangan speedboat ini pun, kata dia, sudah sesuai dengan desain dari KSOP saat ini berlaku berlayarnya kapal. "Sama dengan tempat duduk di atas kecepatan memang terbuat dari pabriknya sendiri. Waktu saya mau terima sudah seperti itu, dan saat izin kami ajukan sudah disetujui syahbandar, "tuturnya. (atr/ YN)