Jumat, 18 Desember 2020

Project Window A, Pemprov Jalin Kerjasama dengan YKAN

MEDIA GATHERING : Staf Ahli Gubernur Kaltara, Edy Suharto berfoto bersama media dari Kaltim yang mengikuti media gathering gelaran YKAN, Kamis (17/12).


KOMANDOKALTARA.COM - SAMARINDA – Guna mensosialisasikan perkembangan dan pelaksanaan program Governor Climate and Forest (GCF) Task Force di Kalimantan Utara (Kaltara) sekaligus bentuk komitmen internasional, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara menghadiri media gathering yang diadakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Hotel Aston, Samarinda (17/12). Mewakili Gubernur Kaltara dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Edy Suharto mengatakan, Kaltara baru bergabung menjadi anggota baru GCF Task Force saat Annual Meeting GCF TF di Provinsi Jalisco, Guadalajara, Mexico pada 2016.

Saat itu Kaltara diusulkan oleh delegasi Indonesia (6 provinsi) dan delegasi Pantai Gading, Afrika dan terpilih secara aklamasi dengan suara terbanyak dari total suara 29 provinsi/negara bagian dari 8 negara : Indonesia, Brasil, Amerika, Spanyol, Pantai Gading, Nigeria dan Peru. Saat ini jumlah anggota GCF ada 38 provinsi/negara bagian dari 10 negara.

“Sejarah perjalanan Kaltara dalam berperan terhadap isu pemanasan global dan perubahan iklim adalah melakukan upaya perlindungan hutan yang didalamnya terdapat kawasan hutan Heart Of Borneo (Hob) dan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Kemudian menggaungkannya di pertemuan internasional seperti Annual Meeting GCF Task Force, pertemuan Conference of the Parties (COP), pertemuan Under 2 Coalition Group dan  Asian Pacific Leadership Forum yang dihadiri langsung oleh Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie,” ujarnya.

Adapun dari luas wilayah Kaltara 7.547 kilometer persegi atau 7.5 juta hektare, terdapat 90 persen atau sekitar 6,45 juta hektare kawasan hutan termasuk kawasan HoB seluas 5,13 juta hektare atau 22,17 persen dari total luas Hob di 3 negara yaitu 23,16 juta hektare. “Hutan HoB sendiri, menjadi ‘jantung’ Kalimantan dan ‘paru paru’ dunia,” katanya.

Dari beberapa pertemuan GCF, membuahkan sejumlah kebijakan. Diantaranya, Kaltara mendapatkan bantuan dari Pemerintah Norwegia melalui United Nation Development Program (UNDP) sebagai upaya perlindungan hutan yang ada. “Bantuan GCF TF ini dinamakan Project Window A, yang diumumkan pada saat Annual Meeting di San Fransisco, California pada 2018. Untuk melaksanakan Project Windows A senilai USD 400 ribu, Pemprov disyaratkan harus bekerjasama dengan mitra pemerintah atau NGO/LSM internasional,” urainya.

Pada awal 2019, Project Window A Pemprov Kaltara menunjuk World Wide Fund (WWF) untuk melaksanakannya. Namun di akhir 2019 dihentikan kerjasama ini karena ada surat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang penghentian kerjasama Pemerintah Indonesia dengan WWF. “Untuk melanjutkan Project Window A, akhirnya Pemprov Kaltara memutuskan menunjuk YKAN (dulu bernama The Nature Conservacy/TNC) sejak awal 2020 hingga sekarang,” jelasnya.

Kaltara sendiri menetapkan target untuk menurunkan emisi sebesar 33 persen Baseline As Usual (BAU) hingga 2030.(humas / yn)